Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW

Pengertian dari Maulid Nabi Muhammad SAW. (freepik/freepik)
Pengertian dari Maulid Nabi Muhammad SAW. (freepik/freepik)


WWW.saifullahwiki.com - Secara etimologi, istilah “maulid” berasal dari bahasa Arab ( مَوْلِدٌ ) berarti “memperingati” hari lahir Nabi Muhammad SAW. Maulid atau Muludan dalam bahasa arab yakni Waladun ialah yang telah dilahirkan. Karena itu “Maulid Nabi Muhammad” berarti usaha memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang jatuh pada tahun Hijriyah tanggal 12 Rabiul Awal.


Memperingati maulid ini dilakukan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.


Memperingati Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya untuk membangkitkan semangat umat Islam? Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Perancis, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade.


Perang Salib atau dikenal sebagai The Crusade salah satu pertempuran paling besar yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Perang Salib terjadi pada abad pertengahan dan melibatkan kekuatan Eropa melawan kekuatan umat Islam.


Agar Sobat SaifullahWiki makin mengenal peringatan Maulid Nabi, sobat pahami bahwa Maulid Nabi merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada mulanya untuk membangkitkan semangat umat Islam, dimana Pada tahun 1099 Masehi, tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja.


Secara garis besar dilansir dari berbagai sumber oleh saifullahwiki.com, Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah belah dalam banyak kerajaan dan kesulitanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.


Sultan Salahuddin Al-Ayyubi orang Eropa menyebutnya Saladin seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah pada tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriah. Bani Ayyub katakanlah dia setingkat Gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo),Mesir,dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.


Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal ke cintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.


Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni an-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi),Salahuddin sebagai penguasa haramain (Dua tanah suci Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada.


Bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam. Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.


Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang. Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 Hijriah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin.


Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja’far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi. Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul.

Baca juga Sejarah dan Memaknai Hari Kebangkitan Nasional

Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.


Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya. Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.


Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara perayaan Maulid Nabi atau Muludan dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (Dua kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam.


Sobat SaifullahWiki, di momen Hari Maulid Nabi Muhammad SAW ini, mari kita bangkitkan semangat persaudaraan ukhuwah. Tanpa semangat dan perjuangan ini umat Islam akan terpecah belah dan kesulitanan, jadi yul bersama Menggapai Teladan Rasullah SAW.

-------

Penulis: pengelola web www.saifullahwiki.com
Sumber: Berbagai Sumber

Posting Komentar untuk "Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW"